![]() |
| Tanaman Multifungsi |
Semua orang tau kalau hutan adalah paru-paru dunia. Sayangnya, nggak semua orang mau menjaga hutan kita. Segelintir orang justru berniat melakukan eksploitasi. Bentang alam Indonesia sedang tidak baik-baik saja. Menurut kamu, apa upaya terbaik untuk menjaga hutan kita?
Jaga Hutan = Jaga Sumber Pangan
Aku takjub dengan komunitas lokal di Kampung Friwen, Distrik Waigeo Selatan, Kabupaten Raja Ampat. Pasalnya warga masyarakat berperan aktif dalam menjaga hutan mangrove di sana. Tak hanya soal reboisasi dan perawatan, tapi juga mengembangkan buah mangrove menjadi sumber pangan lokal.
Emang mangrove bisa dimakan? Kalau kamu penasaran, silakan baca artikel ini sampai akhir, ya!
Online Gathering Eco Blogger Squad dan The Asia Foundation
![]() |
| Online Gathering |
![]() |
| Peserta Online Gathering |
Aku berkesempatan ikut online gathering Eco Blogger Squad (EBS) dan The Asia Foundation (TAF) tanggal 25 September lalu. Event ini mengangkat tema “Inspirasi Ketahanan Pangan dari Mangrove di Raja Ampat”. Acara ini diikuti oleh puluhan blogger yang juga berfokus pada kampanye jaga hutan dan kelestarian alam di Indonesia.
Mangrove Bisa Dimakan?
Narasumber pertama yaitu Bang Wawiyai Steve (Program Manager PKPRA) yang berbicara tentang sumber pangan lokal dari hasil hutan, khususnya mangrove. Mulanya muncul kegelisahan masyarakat Kampung Friwen dan Kampung Yanbeser pada tahun 2018 lantaran degradasi hutan mangrove. Akar masalahnya yaitu pengambilan kayu untuk kebutuhan bahan bangunan homestay dan resort.
Di sana ada hutan mangrove Doredor yang merupakan wiayah adat terjaga dan terlindungi sebagai central pemijahan ikan di Selat Dampier Raja Ampat, Papua Barat Daya. Miris sekali, pada tahun 2019 tingkat kerusakan mencapai 57% atau sekitar 133 Ha dari total luas hutan mangrove 233 Ha.
![]() |
| Gambar: Materi Online Gathering |
Tak berdiam diri, masyarakat selalu berupaya melakukan pembibitan kembali, penanaman ulang di kawasan yang rusak, pengolahan produk mangrove sebagai pangan lokal dan peningkatan ekonomi, serta jasa lingkungan dan program adopsi mangrove bagi wisatawan.
Akar mangrove menyediakan tempat berlindung dan pemijahan untuk berbagai spesies laut dan menjaga keseimbangan ekologi wilayah perairan Papua. Jadi bias dibilang hutan mangrove ini menyimpan laboratorium alam bagi biota endemic yang tidak ditemukan di tempat lain.
Hutan mangrove juga berhubungan erat dengan stok ikan. Mangrove menjadi tempat pemijahan bagi larva ikan serta krustasea sebelum bermigrasi ke terumbu karang. Mangrove juga menghasilkan detritus dari guguran daun yang menjadi sumber energi utama dalam rantai makanan perairan pesisir. Terakhir, hutan mangrove berfungsi sebagai penyaring sedimen dan polutan untuk menjaga kejernihan air yang penting bagi kehidupan biota laut.
Nah, setelah online gathering ini aku juga baru tau kalua mangrove bisa diolah menjadi makanan dan minuman.
Sumber Pangan Lokal dari Ekosistem Mangrove
Hasil Laut Non-Ikan
Hutan mangrove menjadi habitat kepiting dan kerang yang bisa membantu meningkatkan pendapatan warga sekitar. Jika komunitas local mampu memastikan ketersediaan tempat pemijahan alami bagi biota laut, stok kepiting dan kerrang ini akan selalu aman.
Pemanfaatan Buah Mangrove
![]() |
| Pemanfaatan Buah Mangrove (Gambar: materi online gathering) |
Tepung Mangrove
Buah jenis Bruguiera gymnorrhiza bisa diolah menjadi bahan baku tepung sebagai substitusi karbohidrat local.
Minuman Tradisional
Buah mangrove juga bisa disulap menjadi sirup yang kaya akan antioksidan dan bermanfaat untuk kesehatan.
Aneka Camilan
Buah mangrove bisa diolah menajdi kue, keripik, dan acar. Tentu saja hal ini bisa menjadi sumber pangan lokal dengan harga terjangkau, bahkan berpeluang meningkatkan perekonomian mikro warga setempat.
Madu Mangrove Unggulan
Nektar bunga mangrove bisa digunakan sebagai bahan dasar madu. Produk madu alami ini kaya akan antioksidan yang bisa menunjang kesehatan.
Begitulah, mangrove memang tanaman yang multifungsi, perannya tak hanya ganda, tapi berlipat-lipat. Aku jadi inget sama tanaman lidah buaya yang multifungsi juga.
Lidah Buaya yang Multifungsi
Kita semua tau kalau lidah buaya biasa digunakan untuk skincare dan obat luka. Benar, gel lidah buaya memang bisa menenangkan kulit, melembabkan wajah, dan mengatasi iritasi ringan. Aku sendiri tak jarang menggunakan skincare yang berbahan dasar lidah buaya. Biasanya sih gel moisturizer untuk melembabkan kulit kering.
Dari sisi kesehatan, lidah buaya juga bisa mempercepat penyembuhan luka. Kandungan antiinflamasi dan antimikroba di dalamnya bisa membantu mengurangi peradangan dan mencegah infeksi pada luka bakar (hellosehat.com). Gelnya juga bisa menenangkan luka sehingga mempercepat penyembuhan. Perlu diingat, lidah buaya juga punya efek samping. Jika tidak cocok atau digunakan oleh pemilik kulit sensitif, lidah buaya justru memicu reaksi alergi (gatal-gatal).
Tapi tenang, kini lidah buaya juga bisa dimakan!
Di tangan mas Alan Efendhi, lidah buaya bisa diolah menjadi berbagai jenis makanan dan minuman. Aku kenal produk berbahan dasar lidah buaya ini pada tahun 2022. Saat itu aku berkesempatan ikut kunjungan ke beberapa lokasi pemberdayaan UMKM. Di kediaman mas Alan, aku menginjakkan kaki di kebun aloe vera miliknya.
Awalnya mas Alan hanya memanfaatkan pekarangan rumah untuk menanam aloe vera. Ketika ide mengolah lidah buaya muncul, ia justru berhasil memasarkan produknya. Kini dia memperluas cakupan tanah di samping rumahnya untuk budidaya aloe vera. Pemeliharaan dan produksi olahan aloe vera pun sudah dibantu tetangga sekitar.
![]() |
| Lidah Buaya (Dokpri) |
Yaps, produk unggulannya adalah nata de aloe vera. Tekstur dan rasanya mirip nata de coco, tapi lebih lembut dan terasa "kres" saat disajikan dalam kondisi dingin. Selain itu ada juga keripik lidah buaya, permen lidah buaya, dan serbuk minuman lidah buaya.
![]() |
| Nata de Aloe Vera (foto: Dokpri) |
![]() |
| Gambar: keripik lidah buaya (Dokpri) |
Gimana, lidah buaya juga multifungsi kan?
Jaga Hutan Amankan Sumber Pangan
Nggak kebayang kalau hutan kita terus tersingkir, menyusut, dan dieksploitasi oleh segelintir orang. Tak hanya ekosistem yang terganggu, sumber pangan lokal pun berkurang.
Tak heran kalau warga Kampung Friwen dan komunitas lokal di sekitarnya gencar melakukan reboisasi mangrove dan melakukan pemeliharaan secara berkala. Kita semua berharap ekosistem hijau tetap lestari, pangan tercukupi, dan alam menjadi rumah yang nyaman.
Setuju?
Aku jadi penasaran, di daerah tempat tinggalmu ada tanaman multifungsi juga?




.png)





Posting Komentar
Posting Komentar