Dawet Kani Jogja, Sajian Segar yang Nggak Pake Mahal

9 komentar



Saat masih berusia TK, aku selalu ikut ibu pergi ke pasar. Tiap selesai belanja, ibu membelikan aku es dawet. Aku senang karena rasanya enak dengan cairan gula merah yang mantap. Konon, minuman segar dengan dawet warna pink itu berasal dari Jepara.

Namun salah satu kawan kuliahku yang berasal dari Banjarnegara klaim bahwa dawet itu khas daerahnya. Nggak salah sih, kadang ketemu di jalan ada tulisan "Dawet Banjarnegara". Jadi dawet ini dari daerah mana?

Awal bulan Oktober ini aku menemukan dawet khas daerah lain lagi, yaitu Kudus, Jawa Tengah. Dawet asli Kudus ini unik karena menggunakan dua macam santan. Masyarakat setempat biasa memanggilnya "Dawet Kani".

Resep Dawet Kani ini turun-temurun dari keluarga penjual dawet di Pasar Kliwon Kudus. Di sana, penjualan terbilang ramai. Dalam sehari bisa menyajikan ribuan gelas dawet. Itulah mengapa owner Dawet Kani melebarkan sayap untuk membuka cabang di Jogja.

Dawet Kani, Apa Itu?



Dawet Kani adalah minuman dengan dawet (cendol) yang terbuat dari tepung aren (sagu) yang dilengkapi dua macam santan. Tepung sagu inilah yang membuat dawet Kani lebih lembut. Tekstur dawetnya juga nggak satu bentuk, terkesan seperti cincau pecah abstrak. So, dawet dengan cita rasa Indonesia ini bisa dinikmati oleh segala usia.

Kenapa santannya 2 macam? Ini keunikan Dawet Kani. Pembeda dawet khas Pasar Kliwon Kudus dengan dawet lain berada pada santan kentalnya. Masyarakat Kudus menyebutnya "kani", kalau aku mengenalnya dengan istilah "kanil". Dari sini pula nama Dawet Kani terbentuk. 

Dawet Kani Dibuat dengan Bahan Pilihan

Danial Ahsin, owner Dawet Kani pertama di Jogja mengaku sudah 4 bulan belajar mengolah Dawet Kani dari ahlinya langsung. Beliau menimba ilmu produksi hingga pemasaran dari Dawet Flamboyan Pasar Kliwon Kudus yang sudah eksis sejak tahun 60-an. Prosesnya cukup rumit karena semua olahan diproduksi sendiri. Untuk sekali produksi dibutuhkan waktu sekira 5 jam. 


Untuk membuat kaninya saja dibutuhkan 20 butir kelapa per hari. Nantinya akan menjadi 200 gelas Dawet Kani. Sementara pemilihan tepung juga tidak sembarangan. Bahkan sebelum diolah, tepung sagunya disaring terlebih dahulu dengan kain bersih. Nggak heran kalau rasa dawetnya lebih mantap.

Pilih Gula Merah atau Sirup Framboze?

Dawet Kani dipadukan dengan gula merah atau sirup framboze produksi sendiri. Gula yang dipakai adalah gula aren pilihan. Takarannya pun sesuai, nggak kemanisan dan nggak kurang manis. Sirup framboze-nya tak kalah enak meski awalnya aku ragu untuk mencoba. Namun setelah mencoba, aku yang kurang suka dengan framboze tetap bisa menghabiskan satu porsi dawet dengan sirup framboze.

Aku dan beberapa kawan mengunjungi Dawet Kani Jogja saat hari ketiga buka. Tak disangka, ternyata pembeli sudah cukup ramai. Selain minum di tempat, pembeli juga bisa take away. Packaging dengan cup tutup plastik press bertuliskan "Dawet Kani" yang terkesan seperti minuman kekinian. Tetapi point-nya, kemasan seperti itu memudahkan pembeli untuk membawa pulang dawetnya dengan aman, anti tumpah.



A cup of Dawet Kani ini berisi dawet berwarna hijau (pewarnanya alami ya) dengan porsi kenyang --buat aku--. Lalu dicampur dengan santan cair beserta daun pandan. Wanginya khas. Selanjutnya ditambah santan kenal (kani) yang bikin gurihnya maksimal. Terakhir, gula merah cair atau sirup framboze. Tak lupa potongan es.

"Harusnya es gosrok, tetapi karena masih ada covid, kita pake es biasa," terang mas Danial.



Dengan perpaduan santan, dawet, dan gula, Dawet Kani ini gurih bercampur manis. Esnya membuat minuman lokal ini segar. Cocok diminum setiap saat. Jangan khawatir soal kualitas karena Dawet Kani Jogja ini menggunakan bahan pilihan dengan proses yang aman.

Kabar gembira! Selama bulan Oktober ini Dawet Kani only Rp 6.000 !! Sementara harga normalnya 8-9 ribu rupiah. Nantinya pembeli akan mendapatkan bonus kue lapis. Makin kenyang deh. Selanjutnya, Mas Danial juga akan menambah menu lain, misalnya camilan di warungnya. 

Lokasi warung Dawet Kani terbilang strategis di Jalan Kaliurang Km 10. Tepatnya samping Bank BRI Unit Ngaglik Sleman (seberang SPBU). Operasionalnya mulai dari pukul 09.00 hingga 16.00 WIB.



Latifah Kusuma
Challenger. Mahasiswi yang senang berpetualang, baik online maupun di real life. Lebih suka bekerja di lapangan. Bisa disapa melalui instagram dan twitter @latifahkusuma7

Related Posts

9 komentar

  1. Hay mbak salam kenal.
    Saya suka sama dawetnya itu, tapi kayaknya lebih mirip bubur sumsum deh mbak, enak tu terbuat dari tepung terigu berarti tekstur nya padat dan mengeyang kan.

    BalasHapus
  2. Iya mbak kelihatan dari tekstur bahan nya lebih padat yang membuat kita kenyang.

    BalasHapus
  3. Sumpahhh enak bangett, minum 1 gelas aja udah kenyang bangett, dawet yang ngenyanginn ya, ditambah kaninya itu gurihnya ga tanggung tanggung

    BalasHapus
  4. Aku suka yang frambos, manisnya pas. Kalau pas panas banget cuacanya gitu satu porsi jadi kurang hehe

    BalasHapus
  5. Hai kak aku penhen ditraktir lho

    BalasHapus

Posting Komentar

Follow by Email