Ecoprint: Bermain Daun Untuk Menghasilkan Karya Unik dan Fashionable

7 komentar

  
Ecoprint hasil peserta

       Ternyata daun tidak hanya dimanfaatkan untuk kebutuhan makanan atau dibuang begitu saja. Tren masyarakat yang ingin menjaga bumi membawa dampak baik bagi lingkungan sekitar, tak terkecuali seni ecoprint. Ecoprint merupakan teknik memberi pola dan warna pada media (kain) menggunakan bahan alami, misalnya dedaunan. Teknik sederhana ini mudah dipraktikkan oleh semua kalangan.
 
Perkembangan fashion dari ecoprint di Indonesia pun mendapatkan antusias yang baik dari masyarakat, khususnya pecinta go green project. Beberapa waktu lalu aku berhasil menyapa salah seorang pelaku bisnis ecoprint. Ibu Ulfa, seorang pelaku bisnis ecoprint mengaku jangkauan produknya sudah go-international. Tak hanya membuat produk dalam bentuk kain, Ibu Ulfa sudah mengembangkan produknya menjadi kaos, hijab, mukena, sprei dan sarung bantal, hingga sarung sedotan stainless.
 
“Minat masyarakat cukup baik, Mbak. Memang selama ini label ‘mahal’ pada produk ecoprint masih menempel sempurna. Tetapi tidak hanya kalangan atas saja yang membeli, mahasiswa yang dikenal ‘hemat’ pun mampu berbelanja produk ecoprint,” terang Ibu Ulfa.

Sementara Mbak Nita (@anitasarisukaca), alumni Institut Seni Indonesia Yogyakarta, berbagi teknik ecoprint sederhana dalam Fun Art Class di Pendhapa Art Space, Sabtu (18/05/19). Kelas diikuti oleh lebih dari 15 peserta awam dari berbagai usia dan profesi. Beruntung saya dapat hadir dan mencoba teknik dasar ecoprint pada selembar kain. 

Alat dan Bahan yang Mudah Didapatkan

Untuk membuatnya cukup mudah, siapkan daun-daun yang bercorak khas dan mengeluarkan getah. Saya mencoba menggunakan daun jati, daun pohon mangga, daun pohon nangka, dan bunga kamboja kuning. Selanjutnya kita memerlukan alat pukul, direkomendasikan alat pukul yang terbuat dari kayu. Namun pada kelas kemarin aku memukul daun menggunakan batu yang bisa didapat dengan mudah. 

Untuk jenis kain, sila memilih sesuai kebutuhan. Bagi pemula dianjurkan menggunakan kain katun agar lebih praktis. Terakhir, siapkan air tawas untuk finishing. Pun jangan lupa tali, ember, panci kukus beserta kompornya, serta tali jemuran dan penjepit kain.

Cara Membuat Ecoprint

1. Pilih daun dengan tulang yang unik agar motif lebih eyechatching. Letakkan helai daun pada kain. Tutup dengan lembaran plastik agar getah daun tidak keluar dari pola. 

Penataan daun sesuai selera

2. Pukul secara perlahan dan konsisten mulai dari tulang daun hingga mengeluarkan zat warna. Lakukan pada semua helai daun sehingga nampak pola mentah pada kain. 

3. Gulung kain beserta plastiknya secara padat dan rapi. Plastik bisa saja dilepas, namun penggunaan plastik pada gulungan akan mencegah warna berceceran. 

Gulung kain dengan rapi

4. Ikat kuat gulungan dengan tali. Lakukan secara berulang agar warna tetap aman. 

Ikatan kain

5. Kukus kain gulung. Untuk hasil yang lebih baik, kukus selama 2 jam. 

6. Angkat dan tiriskan gulungan kain. Lepas ikatan secara perlahan ketika sudah mulai dingin. 

Hasil setelah dikukus

7. Celupkan pada air tawas tanpa diperas.

Doc: instagram @pendhapaartspace

8. Terakhir, jemur kain di tempat sejuk.  

Doc: instagram @pendhapaartspace

Menurut Mbak Nita, hasil motif warna yang eksotis pada ecoprint tidak bisa didapat secara instan. Kita perlu melakukan trial and error dengan beragam jenis daun dan bunga. Pun pemilihan kain akan mempengaruhi tujuan akhir finishing, apakah nanti akan dijadikan baju, hijab, atau bentuk lain. Pemilihan kain sesuai selera dan tujuan akhir. 

Di akhir sesi kelas, Mbak Nita juga menjelaskan bahwa teknik memukul yang baik adalah konsisten perlahan. Aku pun membandingkan hasil ecoprint milikku dengan peserta lain. Nampak satu lembar kin ecoprint milik seorang ibu yang hasilnya rapi. Beliau mengatakan bahwa teknik pemukulan daunnya secara perlahan dengan risiko waktu yang lebih lama.
 
Doc: tim Pendhapa Art space
Dengan potensi bisnis yang menjanjikan dan proses pembuatan cukup mudah, beberapa peserta ingin menggali lebih dalam teknik ecoprint. Pemasarannya pun cukup mudah melalui komunitas go-green, media sosial, marketplace, dan lingkungan sekitar. Jadi, tunggu apa lagi, kapan mau mempraktikkan di rumah?


Latifah Kusuma
Challenger. Mahasiswi yang senang berpetualang, baik online maupun di real life. Lebih suka bekerja di lapangan. Bisa disapa melalui instagram dan twitter @latifahkusuma7

Related Posts

7 komentar

  1. Wah... Aku ga diajak.... Kemarin aju juga belajar bikin ecoprint, tapi lewat youtube. Punyaku kurang direndam tawas nih..jadi warnanya agak pudar. .hihi.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hihii next coba ikut kelas lagi yuk Mbak

      Hapus
  2. Ternyata begitu yaaa Mbak proses ecoprint..terjawab sudah rasa penasaran saya lewat tulisan ini hehehe. Thanks for sharing anyway.

    Kira-kira ecoprint ini recommended dijadikan tugas kelompok buat siswa di sekolah gak ya Mbak? :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Justru memang cocok untuk dijadikan keterampilan anak sekolah Mbak. Kalau di Jogja bisa colek aku,temanku ada yg bisa memandu praktek hehe 😊

      Hapus
    2. Wahh saya jauh Mbak, di Tambun Bekasi hahaha. Ada temennya di daerah sini gak Mbak? :D

      Hapus
  3. MasyAllah keren banget sih Mba Ecoprint ini ya. Jadi warna yang keluarnya alami ya. Kreatif dan cerdas ikh idenya

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya mbak, nggak perlu pewarna buatan. Cara bikinnya emang agak menguras waktu dan tenaga tapi hasilnya memuaskan

      Hapus

Posting Komentar

Follow by Email