Sekolah Mimpi Mengajak Anak Negeri Untuk Berani Bermimpi dan Mewujudkannya

32 komentar

Siapa yang suka merubah cita-citanya sendiri? Aku juga! Perkembangan wawasan dan lingkungan seringkali menjadi faktor perubahan keinginan. Saat masih kanak-kanak, aku ingin menjadi guru. Yes, cita-cita sejuta umat yang hampir ditemukan di tiap kelas dalam lingkup sekolah dasar. Menginjak remaja, aku berubah haluan ingin menjadi business woman, cita-cita paling keren (pada zamannya). Lanjut waktu jadi mahasiswa cita-citanya menjadi freelancer. Kabar bahagianya, kerja “serabutan” itu tercapai.

Anak-anak berperan sebagai arkeolog. (Doc: Komunitas Saung Mimpi)

Menurut aku masih normal kok merubah cita-cita dan tujuan hidup. Namun alangkah lebih baik jika keinginan kita sudah dirumuskan dengan matang. Caranya? Langkah sederhana yang bisa dilakukan tentu dengan menggali hal-hal yang berkaitan dengan tujuan tersebut. Mempelajari hal baru bisa dilakukan sejak dini, baik dalam bangku sekolah maupun luar kelas.

Dunia anak-anak tak pernah lepas dari canda tawa dan kebebasan ekspresi. Hingga terkadang mereka terlalu asyik berbaur dengan imajinasi. Tak terkecuali soal mimpi dan profesi yang ingin dicapainya nanti. Namun wawasan mengenai ragam profesi terkadang tidak didapatkan dari kurikulum sekolah.


“Bermimpilah dalam hidup, jangan hidup dalam mimpi.” ---Andrea Hirata


Komunitas Saung Mimpi menjembatani anak-anak untuk menggali lebih dalam tentang ragam profesi hingga layak dijadikan cita-cita. Komunitas non profit di Yogyakarta ini memiliki program “Sekolah Mimpi” untuk membantu anak-anak memanajemen kemauan dan kemampuannya dalam memilih cita-cita. Sasaran utama sekolah binaan Saung Mimpi adalah sekolah di pedesaan atau pinggiran kota yang lebih minim akses informasi.

Sekolah Mimpi SD N Gedangan 1
Komunitas Saung Mimpi mengawali tahun 2019 dengan mengadakan Sekolah Mimpi di salah satu sekolah dasar negeri wilayah Gedangsari, Gunung Kidul, Yogyakarta. Sekolah Mimpi di SD ini akan diadakan 3 hingga 5 kali dengan rentang waktu 1 sampai 2 bulan sekali. Antusiasme siswa terlihat dari perjuangan mereka datang ke sekolah meski di hari libur. Sekolah Mimpi memang rutin digelar pada akhir pekan agar tidak mengganggu kegiatan belajar mengajar serta aktivitas volunteer (yang sebagian besar mahasiswa).

Minggu pagi (14/04/19), aku dan Chaca sampai di SD N Gedangan sekira pukul 08.15 WIB. Kami disambut oleh cium tangan anak-anak kelas 3, 4, dan 5 yang sudah menunggu Pasukan Saung Mimpi lainnya (sebutan bagi para volunteer komunitas). Aku memilih bertugas menjadi kakak hore, seorang pendamping kelompok kecil yang nanti akan menyusuri ragam profesi. Sebelum berjalan mengelilingi pos, aku memandu anak-anak kelompok 4 untuk membuat yel-yel.


Pasukan Saung Mimpi (Doc: Komunitas Saung Mimpi)

Bermain dan Berekspresi dalam Pos Profesi
Selaras dengan tujuan terbentuknya komunitas, Saung Mimpi ingin memperkenalkan profesi dan cita-cita yang belum banyak diketahui oleh anak-anak. Hal ini dilatarbelakangi oleh cita-cita anak yang mainstream seperti dokter, guru, dan pemain sepak bola. Padahal di luar itu masih banyak varian profesi yang menyenangkan.

Saung Mimpi menggunakan metode pembelajaran efektif melalui permainan dalam bentuk pos profesi. Metode ini dilengkapi dengan simulasi profesi sehingga melatih anak untuk berani berbicara dan percaya diri. Tak main-main, kakak hore dibekali dengan lembar penilaian untuk semua anak. Dengan demikian capaian kompetensi dan perkembangan tercatat dengan baik.

Kali ini Saung Mimpi menyajikan 5 pos profesi, yaitu:
 
Pos Jurnalistik (Doc: Komunitas Saung Mimpi)

1.      Jurnalistik
Beberapa anak mengaku belum pernah mendengar kata jurnalistik. Pada pos ini anak-anak berlatih menjadi reporter, cameraman, dan pembaca berita. Properti pendukung hasil karya Pasukan saung Mimpi menjadi alat peraga yang menunjang kebutuhan visual. 

Pos Arkeolog (Doc: Komunitas Saung Mimpi)

2.      Arkeolog
Menurut anak-anak, pos ini paling asyik namun menyeramkan. Kali ini kakak pos Saung Mimpi mengubur beberapa replika tulang manusia. Sementara anak-anak bertugas menggali dan menyusun rangka dari tulang-tulang tersebut. Layaknya arkeolog sungguhan, anak-anak harus membaca peta petunjuk yang telah disediakan.

Pos Ahli Gizi (Doc: Komunitas Saung Mimpi)

3.      Ahli Gizi
Kakak pos ahli gizi memperkenalkan makanan 4 sehat 5 sempurna dengan bermain game. Anak-anak akan mencari pasangan jenis makanan dan kandungan di dalamnya. Misalnya nasi mengandung karbohidrat, susu mengandung kalsium, buah mengandung vitamin, dan lain sebagainya.

Pos Kimiawan (Doc: Komunitas Saung Mimpi)

4.      Kimiawan
Gelas berisi cairan warna-warni menjadi daya tarik tersendiri. Bahkan beberapa anak dalam team-ku mengira bahwa cairan itu bisa diminum. Kakak pos kimiawan akan mengajak anak-anak membuat pelangi dari larutan air dan gula. Cairan berwarna merah, biru, hijau, dan kuning tersebut tidak akan menyatu dalam sedotan. Warnanya utuh meski berada dalam satu sedotan.

Pos Desainer (Dokpri)

5.      Desainer
Anak-anak asyik memberi warna pada gambar pakaian yang sudah disiapkan. Di pos ini anak-anak belajar menjadi desainer dengan memadukan jenis dan warna dari gambar pakaian. Tak hanya perempuan, anak laki-laki juga senang  menunjukkan kreativitasnya.

Kelompok 4 (Doc: Komunitas Saung Mimpi)

“Ada yang ingin merubah cita-citanya?” tanyaku pada kelompok 4.
Dengan kompak mereka menjawab tidak ada.

Usai mengelilingi pos tersebut, kami  melakukan mini sharing. Lebih lanjut, aku bertanya mengenai kesan mereka mengikuti Sekolah Mimpi.

“Aku nggak mau jadi arkeolog, Mbak. Serem. Harus pegang tulang,” kata Aulia.

“Jurnalistik ternyata asyik ya Mbak. Tapi aku nggak mau masuk TV,” ucap Laili.

Foto bersama (Doc: Komunitas Saung Mimpi)

Kegiatan diakhiri dengan makan siang dan photo session anak-anak SD N Gedangan 1 bersama Pasukan Saung Mimpi.


“All our dreams can come true, if we have the courage to pursue them.” --- Walt Disney


Tertarik menjadi volunteer atau bekerja sama dengan Saung Mimpi? Intip official account-nya yaa. . .
Instagram @saungmimpi
Latifah Kusuma
Challenger. Mahasiswi yang senang berpetualang, baik online maupun di real life. Lebih suka bekerja di lapangan. Bisa disapa melalui instagram dan twitter @latifahkusuma7 . Kerjasama? Kontak latifahkusuma77@gmail.com ya 👌

Related Posts

32 komentar

  1. Ngopo iki ? Kok ketok nyenengi 🤔

    Nek arp melu pie ?

    BalasHapus
  2. Kereen mb.. Menginspirasi... Aku juga beberapa kali berubah cita-cita eh profesi, pegawai kantoran, dan akhirnya menjadi mom blogger... Wkwkwk.... Tfs mb...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Akhirnya ketemu sama yang sehati ya Mbak. Memang butuh proses

      Hapus
  3. Wah keren ini mba, jadi mengajarkan anak2 untuk terus menggapai mimpinya dengan pantang menyerah :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Semoga anak-anak masa kini makin optimis menggapai cita-cita ya Mbak

      Hapus
  4. Wah, keren mba programnya. Mengenalkan anak-anak dengan berbagai profesi sejak dini.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya Mbak. Semoga anak-anak lebih bijak memilih cita-cita nya 😊

      Hapus
  5. Yaampun, aku kenal jurnalistik itu SMA, dan akhirnya jadi profesi sampai sekarang (jurnalis). Ini anak2 udah dikenalin dari kecil... keren banget!

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sama Mbak. Aku tau jurnalistik waktu SMA juga. Waah keren nih, boleh loh Mbak kalau mau sharing tentang jurnalis ke anak-anak 😄

      Hapus
  6. boleh ajak-ajak Mba kalau pas acara gini, saya juga aktif jadi volunteer kalau saya travelling, bisa konak2an ya Mba, mumpung saya masih di Jogja, thanks

    BalasHapus
    Balasan
    1. Keren Mbak Mei, kirain cuma jalan-jalan aja, eh volunteer juga. Boleh boleh Mbak, nanti tak colek kalau ada oprec. 😊

      Hapus
  7. Saya yang sudah gede saja sering berubah-rubah mimpi atau cita-citanya. Tapi sekarang inginnya ke desainer.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wkwk kayaknya harus ikut sekolah mimpi nih Mas 😄 Tapi tenang, normal kok berubah-ubah. Atau sebut saja tujuan hidup, bukan cita-cita 😆

      Hapus
  8. Wah asyik ya ada Saung Mimpi. Saat kecil emang cita-cita nya suka berubah-ubah mba. Gampang berubah karena belum tahu potensiku apa dan maunya gimana. Belum ada saung mimpi sih jadi gak ada yg jadi jembatan pengetahuan. Beruntung sekali anak-anak sekarang bisa belajar di Saung mimpi.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Alhamdulillah ya Mbak. Semoga bisa bermanfaat buat anak-anak 😊

      Hapus
  9. Saya nih punya anak remaja yang masih belum jelas apa cita-citanya. Yaa itu tadi, masih suka gonta-ganti. Sebagai ortu hanya bisa ngasih gambaran kalo mau jadi begitu musti persiapan begini, dan sebagainya..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Keren loh Mbak. Pasti anaknya senang kalau ortunya komunikatif seperti itu 😊

      Hapus
  10. Aku pun mau jadi jurnalistik tapi mau masuk tivi hihihi..Keren deh saung mimpi. Anak-anak punya gambaran tentang cita-cita

    BalasHapus
  11. Jadi, di saung mimpi ini mengenalkan anak-anak dengan berbagai jenis profesi sehingga memiliki gambaran jelas terkait profesi tersebut. Kegiatan yg sangat menarik dan edukatif, sehingga anak bisa memiliki keberanian untuk bermimpi dalam hidup ini

    BalasHapus
    Balasan
    1. Semoga mereka tidak takut bermimpi ya Mbak

      Hapus
  12. Sawah edukatif ya program sekolah mimpi ini. Dah gitu, ada 5 pilihan profesi yang menarik ... Ah, sayangnya dulu di SD saya belum ada kek gini. Pasti seru banget yaa 🥳

    BalasHapus
    Balasan
    1. Nggak cuma 5 sih Mbak, besok bakal ada beberapa profesi lain 😄 Seruu dong

      Hapus
  13. Kegiatan yang keren dan bermanfaat banget nih buat anak-anak. Kapan-kapan bis anih ngintilin acaranya Saung Mimpi.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Boleh banget Mbak. Monggo :) Ditunggu bagi ilmunya juga buat anak-anak hehe

      Hapus
  14. Wah seru banget ya. Meskipun anak2 tetap ga mau mengubah mimpinya. Jadi pgn ikutan acara saung mimpi

    BalasHapus
    Balasan
    1. Boleh banget loh Mbak, kapan-kapan ikut aja :D

      Hapus
  15. Saung mimpi. Seperti memperkenalkan profesi ke anak2. Good aktifity

    BalasHapus
  16. Wah ada aku, jd kangen ikut kegiatannya lgi

    BalasHapus

Posting Komentar

Follow by Email