![]() |
| Judul (Edit Canva) |
Kartini memang identik dengan kebaya, tapi ada satu hal yang lebih penting daripada perayaan berkebaya tahunan.
Menurutku cara terbaik untuk menghargai perjuangan Ibu Kartini adalah menjadi perempuan yang “selalu tumbuh”, mau belajar di segala bidang.
Tak terkecuali saat harus career break dengan menjadi ibu rumah tangga. Saat masih bekerja aku bisa menabung secara rutin. Bahkan tak jarang aku mengendapkan 100% gaji di tabungan karena biaya hidup berasal dari gaji suami.
Hampir 2 tahun bekerja full time, aku merasa banyak kehilangan waktu bersama anak. Aku juga merasa jarang melakukan stimulasi, padahal saat itu anak berusia 1 tahun. Tak mau kehilangan masa emasnya, aku memilih resign.
Awalnya aku masih bisa bekerja freelance menulis artikel atau review produk di sosmed. Namun lagi-lagi, waktuku bersama anak makin berkurang. Tanpa basa-basi, aku stop bekerja freelance juga. Hari-hariku diisi dengan stimulasi anak, menemaninya bermain, beraktivitas di luar ruangan, dan mengenalkannya pada kehidupan sosial.
Alhamdulillah, dari sisi perkembangan anak, aku merasa puas. Anakku tumbuh dan berkembang sesuai usianya. Sayangnya aku agak kaget saat melihat isi rekening. Sejak awal menikah aku hanya memisahkan rekening uang keluarga (termasuk dana darurat, tabungan, dan biaya hidup) dan rekening uang anak. Ketika dana darurat terpenuhi, biaya hidup cukup, tabungan terasa uang foya-foya.
Ternyata caraku kurang tepat. Ketika sumber pemasukan hanya gaji suami, aku harus lebih detail mengatur keuangan. Sampai ada di satu titik aku merasa boncos, biaya hidup hampir sama dengan gaji. Jujur saja, kebanyakan jajan dan checkout keranjang oren.
Suami menyarankan aku bikin akun rekening satu lagi. Setelah itu aku bagi pos keuangan di rekening khusus tabungan & dana darurat, rekening uang anak, dan rekening biaya hidup bulanan. Kaget dong, dulu bisa jajan tanpa mikir saldo, sekarang benar-benar hanya mengandalkan alokasi dana biaya hidup bulanan.
Ibarat dulu nggak pernah merasakan awal bulan dan akhir bulan karena saldo bercampur. Jadi ketika uang bulanan kurang, ada tabungan yang bisa “nombokin”. Sekarang aku udah hitung kebutuhan hidup bulanan, tambahin sedikit dana tak terduga, masukin ke rekening biaya hidup. Tiap dua hari sekali aku cek arus kasnya, harus cukup untuk satu bulan karena sudah aku hitung berdasarkan pengeluaran rata-rata setahun terakhir.
Alhamdulillah, meski ribet dan harus nahan keinginan, pos keuangan lainnya aman. Dana daruratkan tak tersentuh, tabungan pendidikan aman, dan uang anak udah terpisah.
Emang penting banget ya atur keuangan?
Banget! Saking pentingnya aku jadi merasa “cukup” mengandalkan dua sumber pemasukan (gaji suami & freelance suami).
Kartini Modern Melek Finansial
Bertepatan dengan hari Kartini, aku mengikuti online event “Kartini Modern Melek Finansial” bersama Female Digest. Event ini menghadirkan 2 narasumber yang expert di bidangnya. Ada Mbak Dedek Gunawan, S.E., M.A.,CFP (Financial Planner) dan Mbak Diana Anggraini, S.T., M.si (Dosen LSPR Institute of Communication and Business).
Mbak Dedek bercerita tentang awal mula beliau tertarik dengan dunia investasi, nabung logam mulia, dan benar-benar fokus mempersiapkan keuangan masa depan. Dulu mbak Dedek juga lebih mengutamakan traveling daripada menabung. Sampai beliau sadar kalau keputusan finansial pribadi juga dipengaruhi oleh kondisi ekonomi makro. Misalnya perang yang mengakibatkan krisis energi dan harga-harga mulai naik.
Nggak hanya itu, ternyata biaya hidup perempuan juga lebih tinggi daripada laki-laki. Aku pun mengalaminya sendiri. Laki-laki skincare-nya sangat basic, kalau perempuan bisa 6-7 step. Laki-laki model pakaiannya gitu-gitu aja, perempuan cenderung berubah mengikuti tren. Otomatis frekuensi belanja perempuan juga lebih banyak.
Beda cerita kalau sudah menikah. Kebutuhan laki-laki, tambah kebutuhan perempuan, dan kebutuhan anak. Ngomongin yang paling penting aja deh, misal pendidikan. Inflasi dana pendidikan itu bisa mencapai 10% per tahun. Artinya kalau orang tua tidak menyiapkan dana pendidikan sedini mungkin, ya besok harus lebih bekerja keras. Padahal di masa depan fisik mulai menua, pikiran mulai rumit, dan kesempatan bekerja lebih sempit.
Dari sana mbak Dedek mulai mempersiapkan asuransi kesehatan, tabungan, dana darurat, simpanan logam mulia, dan dana pendidikan anak. Kalau kata mbak Dedek, jangan nunggu sampai merasa punya uang, tapi alokasikan uang yang ada agar besok bisa “punya”.
Belum berhenti sampai di situ, perempuan juga riskan terhadap pekerjaan jangka panjang. Apalagi kalau udah berkeluarga dan jadi ibu, terkadang harus memilih 2 hal yang sebenarnya bukan pilihan. Mau jadi ibu rumah tangga atau ibu bekerja?
Yaps, menurutku kedua hal itu bukan pilihan. Seharusnya perempuan boleh menjadi keduanya. Sayangnya, nggak selalu bisa. Harus ada satu pengorbanan demi tercapainya kebahagiaan lain. Nah, menurut mbak Dedek, sebagai Kartini modern, kita harus bisa aman finansial ketika masih bekerja dan bisa mengatur keuangan keluarga ketika sedang tidak bekerja.
Dari pengalaman pribadiku, perencanaan keuangan yang baik hanya bisa dicapai setelah diskusi dua kepala, suami dan istri. Obrolin aja dengan santai, ketika istri bekerja, uangnya untuk apa? Kalau istri tidak bekerja apakah aman tabungan pendidikan anaknya? Nanti bakal ketemu formula yang pas. Formula ini akan berbeda di tiap keluarga.
Perempuan, Uang, dan Dunia Digital
Selanjutnya yaitu ilmu daging dari mbak Diana. Beliau mengingatkan audiens pada siklus impulsif. Ketika sedang scroll sosmed, eh ada link barang lucu. Kok ternyata harganya terjangkau. FOMO, langsung checkout, baru sadar kalau belum butuh. Parahnya, siklus ini terus berulang. Uang yang awalnya bisa digunakan untuk menabung, justru menjadi barang lucu yang belum dibutuhkan. Solusinya, masukkan barang ke keranjang belanja, tunggu 24 jam. Kalau lupa, maka tidak perlu dibeli. Kalau ingat dan memang butuh, maka bisa dibeli.
Realitanya algoritma sosial media itu pintar. Kita bisa menjadi target yang sangat spesifik hanya karena kita melihat satu topik berita, membaca suatu artikel, atau menonton sebuah video. Awalnya kita scroll saja, ketika kita berhenti agak lama untuk membaca artikel atau menonton video, algoritma bisa menyisipkan iklan produk yang berhubungan dengan bacaan atau tontonan video itu. Kendali ada di tangan kita, mau bijak atau terlena.
Mbak Diana memaparkan salah satu solusi FOMO, yaitu sistem katup rekening. Kita bisa memisahkan uang ke dalam beberapa akun rekening. Misal ketika gajian, transfer sebagian uang ke rekening khusus biaya hidup, lalu sebagian ke rekening tabungan pendidikan anak, dan sisanya ke tabungan haji. Jangan sampai uang biaya hidup habis, eh tabungan anak terpakai untuk checkout barang lucu. Jadinya malah nggak lucu.
Begitulah, uang itu harus dikendalikan, bukan yang mengendalikan kita. Sekali lagi, jangan lupa diskusi keuangan dengan suami agar tidak boncos, ya!
Terima kasih Female Digest sudah menghadirkan event yang bermanfaat. Terima kasih juga kepada Tropicana Slim, Nutrifood, Wardah Beauty, dan Paragon Corp atas terselenggaranya acara ini.







Posting Komentar
Posting Komentar