Gotong Royong Zaman Now ala Cindy Gulla dalam Menyikapi Revolusi Pancasila

2 komentar



Semangat persaudaraan kebangsaan sejati hancur. Warga berlomba meningkatkan negara dan sesamanya; rasa saling percaya pudar karena sumpah dan keimanan disalahgunakan; hukum dan institusi lumpuh tak mampu meredam penyalahgunaan kekuasaan; ketamakan dan hasrat meraih kehormatan rendah merajalela. Semuanya berujung pada kegelapan dan kebiadaban: kebaikan dimusuhi, kejahatan diagungkan. --Yudi Latif, 2017, dalam buku Revolusi Pancasila

Kutipan pandangan Yudi Latif dalam bukunya "Revolusi Pancasila" tersebut bisa dikatakan mewakili kenyataan dalam bingkai negara kita. Dasar negara Pancasila mempunyai arti luas dalam berbagai aspek kehidupan. Mulai dari sisi agama, ekonomi, sosial, hingga hukum yang berlaku.

Warga berlomba meningkatkan negara dan sesamanya

Sila ketiga mengutamakan kesatuan seluruh lapisan dalam negara Indonesia. Namun seiring berjalannya waktu, etnis-etnis tertentu mulai membanggakan kaumnya sendiri. Nepotisme tak hanya ditemui dalam wadah pemerintahan, melainkan juga dunia bisnis.

Dengan demikian, sinergi menjaga nilai Pancasila bisa ditegakkan atas kolaborasi pemerintah, pebisnis, tokoh masyarakat, netizen, hingga masyarakat luas. Egoisme agama pun sebaiknya dikurangi demi kemerdekaan yang sesungguhnya.

Rasa saling percaya pudar karena sumpah dan keimanan disalahgunakan

"Ketuhanan Yang Maha Esa" dalam sila pertama seakan diabaikan oleh beberapa oknum. Ujaran kebencian atas kepercayaan lain tak henti mengalir dalam kehidupan sehari-sehari. Hal ini diperparah oleh penyebaran hoax lewat sosial media.

"We are under control of digital foot prints"

Akses internet memberikan kemudahan tanpa batas bagi kita. Segala informasi bisa didapat dengan mudah melalui website atau sosial media. Sebaran hoax menjangkiti masyarakat dengan mudah. Media abal-abal bermunculan tak terkendali hingga berpotensi menyerang media mainstream.

Jangan remehkan asisten rumah tangga Anda. Media sosial bisa saja membuatnya semakin pintar-- Rhenald Kasali

Bila masyarakat tidak membentengi diri dengan sila keTuhanan, konflik sosial dapat meledak sewaktu-waktu. Maka alangkah baiknya jika salah satu nilai Pancasila ini diselaraskan dengan keyakinan individu. Ketika kumpulan individu memiliki paham Tuhan yang Esa, mereka akan menghargai sesamanya. Tak peduli nama agama atau bagaimana caranya beribadah, kesatuan adalah titik tertinggi dari kesetaraan.

Hukum dan institusi lumpuh tak mampu meredam penyalahgunaan kekuasaan

Penegakan undang-undang adalah mutlak dilakukan dalam segala aspek. Korupsi, kolusi, dan nepotisme harus ditindak tegas demi "Kemanusiaan yang adil dan beradab". Pun penanaman pendidikan karakter harus dimulai sejak dini. Bangku sekolah boleh saja membuat generasi muda meraih prestasi. Tetapi perlu diingat, bahwa attitude adalah pemenang sejati. Apalah arti prestasi tanpa karakter baik.

Pintar yang kita butuhkan bukanlah pintar yang sudah selesai, melainkan yang di-setting untuk tumbuh (growth mindset)-- Rhenald Kasali

Dunia pendidikan kita terlalu sibuk menyuapi anak-anak dengan ilmu dan pengetahuan, tetapi kurang mengajarkan pentingnya budi pekerti--Rhenald Kasali

Gotong Royong Zaman Now ala Cindy Gulla

Generasi milenial dapat melakukan aksi nyata melalui sosial media. Berikut contoh gotong royong online ala mantan personil JKT 48 tersebut:

1. Petisi Online

Beragam petisi positif menghiasi jagad sosial media. As a millennial, tak ada salahnya jika kita membantu suara dalam berbagai isu positif di Indonesia. Meski belum saling mengenal, belum bertatap muka, tanda tangan petisi ini aka  menciptakan persaudaraan tanpa pandang bulu

2. Be a good content creator

Kreativitas bukanlah tren semata. Millennial sebagai penerus bangsa harus mampu mengasah potensi, tak terkecuali lewat sosial media. Ragam sosmed bisa diisi dengan konten positif dan bermanfaat. For example, Cindy Gulla kini berupaya menjadi vlogger yang menginspirasi bagi pemirsa channel-nya serta masyarakat luas.

Menurut Cigull, gotong royong online akan menciptakan solidaritas dan peduli sekitar. Meski fokus dunia maya harus ditegakkan, kita juga harus berperan aktif dalam kehidupan nyata.

Membangun Jejak Digital Kreatif ala Mira Sahid

Berbicara soal konten media, Mira Sahid, salah satu founder Emak Blogger menegaskan beberapa tips sukses dalam jejak digital:

1. Find your passion
2. The strong of content
3. Consist your content posting

"Media sosial harus dijadikan etalase diri Kita"--Mira Sahid

Latifah Kusuma
Challenger. Mahasiswi yang senang berpetualang, baik online maupun di real life. Lebih suka bekerja di lapangan. Bisa disapa melalui instagram dan twitter @latifahkusuma7 . Kerjasama? Kontak latifahkusuma77@gmail.com ya 👌

Related Posts

2 komentar

  1. Budi pekerti itu memang penting ya
    Internet mudah sekali diakses, dan herannya juga orang dengan mudahnya unggah video atau pun konten yang lainnya tanpa dipikir terlebih dahurlu. Akibat dari konten itu, seperti untuk saat ini yang berbau rasis. Aduh efeknya sungguh luar biasa. Walau pun itu bukan berita hoaks, tapi kalau berimbas hal negatif ya lebih baik ditahan atau jangan disebarkan.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Nah bener itu Mas. Aku selalu berhati-hati biar nggak mudah share Berita tanpa sumber yg jelas

      Hapus

Posting Komentar

Follow by Email